8 Agustus 2011

Kekuatan Udara Jadi Bargaining Power

F-16 TNI AU

JAKARTA (Suara Karya): Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat menyatakan, kekuatan udara merupakan salah satu komponen kekuatan pertahanan yang dapat menjadi "bargaining power" dalam upaya menyelesaikan konflik antara negara. 

"Kita harus punya kekuatan udara yang kapabel dan kuat," tegas Imam , seperti dikutip Suara Karya dari siaran pers Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara di Jakarta, Sabtu (6/8).

KSAU menjelaskan, kekuatan udara itu melalui kekuatan operasi taktis, operasi strategis, pertahanan udara, "air mobility" dan lainnya. "Kalau kita ingin menjadi angkatan udara yang kapabel dan memiliki 'bargaining power', kita harus melakukan semua itu," ujar dia.

Ia menambahkan, politik dalam diplomasi dengan dukungan TNI, khususnya Angkatan Udara maka negara lain akan memperhatikan negosiasi yang dilakukan oleh Indonesia. "Amerika merupakan negara supor power (adidaya) maka dengan kekuatan itu negara akan berpikir. Sekarang ini dalam rangka memenuhi Minimum Essensial Force (MEF), kita bangun semua kekuatan TNI, sehingga nanti 2024 kita bisa melakukan operasi apa saja," ujar KSAU.

Sebagai salah satu komponen pertahanan negara, menurut Imam, TNI AU terus tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis. "Kita menyadari bahwa untuk dapat membangun sebuah angkatan udara yang kuat tidak mudah dan memerlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Keterbatasan anggaran negara dan tingginya tingkat ketergantungan teknologi menjadi salah satu faktor upaya pembangunan TNI AU ke depan," kata Imam.

Detasemen Pacitan

Sementara, Landasan udara rumput (grass strip) dan Detasemen Pacitan, Jawa Timur kembali diaktifkan oleh TNI Angkatan Udara. Keduanya mmemiliki potensi strategis untuk pertahanan udara, sekaligus pengembangan potensi kedirgantaraan Pacitan. "Airstrip dan detasemen di Pacitan difungsikan kembali karena memiliki fungsi strategis," kata Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M Syaugi.

Airstrip tersebut memiliki nilai strategis militer dan ekonomi. Saat ini di sebelah selatan Jawa baru dua airstrip yang dikembangkan untuk kepentingan komersil yakni di Cilacap dan Banyuwangi. Sejumlah airstrip di dekat Pangandaran digunakan untuk pengiriman bantuan tanggap bencana saat gempa dan tsunami melanda kawasan itu. (Feber S)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...